01 Oct 2025 | Kategori: Pendidikan | : 87 |
Ditulis Oleh : Ferdi Jelahu, MTBPada kesempatan yang instimewa ini, insan pendidikan Indonesia ikut merayakan Hari Kesaktian Pancasila, tepatnya pada Rabu, 01 Oktober. Mengapa disebut hari kesaktian pancasila? Karena Pancasila masih tetap bertahan sampai pada saat ini, meskipun ada upaya menggantikannya. Pancasila tidak dapat diganti dengan ideologi lain sebagai pemersatu bangsa.
Tema Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2025 Secara Nasional “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya” Ada berbagai pertanyaan kritis yang timbul dari dalam hati kita sebagai warga negara Indonesia. Apakah Pancasila sudah menjadi perekat bangsa menuju Indonesia Raya? Apakah nilai pancasila sudah diwujudkan secara merata atau ada ketimpangan sosial? Ketika ada ketimpangan sosial, akan Indonesia Jaya terwujud? Apakah di SMP Bruder Pontianak sudah menjadi “perekat” (menjalin hubungan baik) dengan kebiasaan baik bisa mewujudkan cita-cita Indonesia Jaya?
Pancasila merupakan suatu ideologi (kumpulan ide, gagasan, keyakinan dan nilai-nilai) yang menjadi arah pedomaan tindakan manusia. Banyak mengandung nilai-nlai yang mengatur kehidupan manusia dalam Pancasila. Ada nilai spiritualitas, sosial, budaya, keadilan, kemanusiaan, dsb. Misalkan Sila Pertama [1] “Ketuhanan yang Mahaesa” Nilai apa yang dapat kita temukan dalam sila pertama ini? Ketuhanan, berkaitan dengan: iman (keyakinan/kepercayaan) kepada Tuhan sesuai ajaran masing-masing agama. Iman kaitannya dengan dua hal, yaitu: pengungkapan dan perwujudan. Iman itu diungkapkan, lewat doa, kata-kata yang kita panjatkan kepada Tuhan sebagai sumber keselamatan. Kita mengantungkan seluruh hidup kita kepada Tuhan.
Perwujudan iman, apa yang kita ungkapkan dengan kata-kata, kita wujudkan dalam perbuatan. Misalkan mohon rahmat kedamaian, kita berusaha untuk menciptakan lingkungan secara damai. Siapa pembawa damai dalam lingkungan yang damai? Tentu saja kita sendiri! Bukan orang lain. Kita mulai mencitpakan kutub damai dalam diri kita. Ketika lingkungan kita damai, maka orang lain datang untuk membawa damai. Ruang lingkupnya menjadi damai.
Sila Kedua [2] “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Apa point penting yang perlu dirajut bersama? Tentang situasi kemanusiaan. Apakah sudah mendapatkan keadilan yang merata. Realitas konkrit secara nasional menunjukkan bahwa kemiskinan tenggarai kita, ada 23,85 juta orang. Yang mencakup, penduduk miskin diperkotaan, 10,38 juta orang, dan penduduk miskin di pedesaan, 13,47 juta orang. Jumlah ini menurun dari Bulan Maret 2025, 210.000 juta orang dibandingkan pada Septermber 2024, sekitar 24,06 juta orang. Faktor penyebabanya adalah? Pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, (2024, 1,10%) tidak sebanding dengan pertumbuhan ekonomi, rendahnya nilai tukar petani (hasil barang komoditi dan nilai harga jual yang rendah). Terjadi pengangguran yang belum menyerap seluruh angkatan kerja. Ini memungkinkan kalau kita tidak siap bersaing dengan kemajuan teknologi yang kian canggih, maka akan terjadi ketimpangan terus. Akibatnya pancasila sebagai perekat belum memberikan kesejahteraan bersama.
Apa sumbangan pendidikan untuk mengatasi masalah ini? Mari kita refleksi dalam ruang perjumpaan kita setiap hari di sekolah. Witono (2025:75) ada dua ruang perjumpaan kita bersama orang lain yakni: 1) Kutub intim dan, 2) kutub anonim. Kutub intim perjumpaan itu, tidak hanya secara fisik, tetapi pemahaman mendalam mengenai kebutuhan pribadi masing-masing individu. Ini akan membantuk kita menjadi “perekat” karena perjumpaan dari hati ke hati membantu kita menjawab kebutuhan tiap individu. Kalau guru dapat memahami kebutuhan siswa-siswinya, orang tua memahami perkembangan anaknya di sekolah. Sedangkan kutub anonim adalah menciptakan tipifikasi (membeda-bedakan) yang mengarah pada ketidakkenalan. Perjumpan kita harus mengacu pada perjumpaan yang intim (mengenal secara mendalam tentang kesulitan teman/orang lain). Itulah yang kita praktik dalam hidup sehari-hari di SMP Bruder Pontianak. Usaha kita untuk terus berbuat baik untuk teman, guru dan orang tua atau siapa saja.
Sisi yang lain, kemanusiaan yang adil dan beradab meformulasikan “perlakuan kita terhadap orang lain, teman di sekolah, guru, dan orang tua di rumah.” Tutur kata kita, ucapan kita mencerminkan penghargaan terhadap orang lain atau menyakiti orang lain? Kita ingin menghargai teman sepejuangan kita. Kita ingin menciptakan rasa keamanan di lingkungan sekolah dengan berlaku baik terhadap sesama kita. Untuk menciptakan rasa aman, kita harus memulai dari diri kita sendiri, bukan menuntut orang lain seperti ini, seperti itu. Kita harus berani memulai dari diri sendiri.
Kita semua adalah perlaku perubahan. Perubahan itu tidak akan terjadi kalau kita tidak mulai dari diri sendiri. Kalau kita ingin berkarakter baik, kita mulai buat yang baik, dari tutur kata (ucapan) harus memberikan nilai baik terhadap orang lain, kalau kita ingin memiliki karakter baik, kita harus patuh, dan taat terhadap peraturan sekolah. Aturan itulah yang menuntun kita pada kebaikan. Semua aturan membantu kita untuk menjadi lebih baik.
Pedomaan itu ada dalam nilai-nilai Pancasila. Apakah semuanya sudah sesuai dengan keadaan kita saat ini? Tentu saja tidak! Untuk itulah SMP Bruder Pontianak berusaha untuk menciptakan aturan yang jelas dan tegas. Dalam rangka membantu perserta didik memiliki karakter yang baik sesuai dengan amanat yang ada dalam Pancasila. SMP Bruder Pontianak dalam wewujudkan nilai-nilai Pancasila terus-menerus mendorong ouput generasi bangsa yang disiapkan mulai dari sekarang.
Indonesia Jaya akan terwujud kalau sekarang masing-masing kita memiliki kesadaran cita-cita pendidikan di masa yang akan datang. Bukan saja kemampuan akademis, tetapi jiwa sosial untuk generasi emas di masyarakat yang mendatang. Mengingat bahwa hasil pendidikan mengamalkan Pancasila dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.
Pancasila Sebagai Perekat Bangsa Menuju Indonesia Jaya. Adalah tugas kita bersama dalam mendidik siswa-siswi agar di SMP Bruder Pontianak agar mereka tumbuh sesuai dengan nilai-nilai yang diamanatkan dalam Pancasila. Kita semua dipanggil sebagai pelaku kebajikan, norma, etika, teladan, spitual (iman), dan sebagainya. Semua itu kita jadikan contoh untuk mendidik generasi siswa-siswi. Tujuannya, agar nilai Pancasila tetap relevan dan kontekstual, dirawat, dipelihara dan dilaksanakan oleh generasi berikut.
Kita dipanggil seperti Santa Teresia dari Kanak-Kanak Yesus, Perawan dan Misi. Teresia dipanggil dalam 15 tahun menjadi seorang biarawati Karmel. Dalam hidupnya ia dekat dengan Tuhan , dan teladan hidupnya menjadi dia sebagali pelindung misi bersama St. Fransiskus Saxerius.
Semoga ini semua bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di SMP Bruder Pontianak.